Travel Therapy, Lebih dari Sekadar Traveling
Jika Anda merasa butuh terapi psikologis yang tidak biasa, Travel Therapy mungkin bisa jadi solusinya!

Bersama seekor anjing bernama Monster, Enrique Crow meninggalkan rumah pada tahun 1999 untuk berkeliling dunia. Sebelum akhirnya memilih tinggal di Tiongkok bersama istri dan anaknya, ia dan Monster sudah sempat menginjakkan kaki di 31 negara dan 5 benua. Perjalanan panjang tersebut pun menginspirasi psikolog yang juga aktif bermusik ini untuk mengembangkan Travel Therapy, metode terapi yang diyakininya sangat efektif.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Travel Therapy dan bagaimana cara melakukannya?
Perpaduan Traveling dan Psikoanalisis

Enrique menghabiskan sebagian waktunya mengajarkan interpretasi mimpi pada para Psikolog. Menurutnya, pengalaman menangani klien dari berbagai belahan dunia membuktikan bahwa psikoanalisis, melalui asosiasi bebas dan interpretasi mimpi, merupakan metode yang paling ampuh meski tak dapat diterapkan pada semua orang; anak-anak, misalnya.

Apa pun yang dialami para kliennya, baik depresi, gangguan kecemasan, atau ingin membuat perubahan positif, selalu ada benang merah yang dapat ia tarik—patah hati, kemarahan, dan kebingungan akan hidup. Melalui psikonalisis, Enrique membantu para kliennya mencari akar permasalahan mereka. Metode ini merupakan metode yang semakin diakui kebutuhan dan keampuhannya.

Satu-satunya kelemahan metode ini, menurut Enrique, adalah waktu.

“Jika seseorang terkena tembakan di paru-parunya, tentu wajar jika luka yang ia alami tak dapat sembuh hanya dalam beberapa minggu. Hal yang sama tentu berlaku untuk luka psikologis,” tuturnya. “Saya mencoba memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhannya.”

Di tengah perjalanannya berkeliling dunialah Enrique mendapat ide untuk mengembangkan Travel Therapy. Perpaduan traveling dengan psikoanalisis, menurut Enrique, dapat mempercepat jam psikologis tubuh manusia sekaligus prosesnya. Seseorang, contohnya, akan mengalami lebih banyak hal dalam satu minggu bepergian ketimbang satu tahun di hadapan komputer kantornya. “Tujuan seseorang bukanlah tempat, melainkan cara baru melihat sesuatu,” kata Enrique, mengutip pengarang terkenal Henry Miller.
Bukan Sekadar Traveling

Banyak orang, mungkin juga termasuk Anda, bepergian untuk meninggalkan hal-hal lain yang Anda anggap mengakibatkan stres, hanya untuk menyadari bahwa semua itu tetap tinggal di tempatnya saat Anda kembali. Anda dapat melarikan diri dari masalah untuk sementara, namun masalah tersebut kembali menyapa begitu Anda pulang ke rumah.

Travel Therapy bukan sekadar mengambil cuti atau meninggalkan pekerjaan lalu bepergian ke tempat asing selama seminggu atau sebulan. Inti dari metode ini adalah berusaha menyembuhkan diri ketika Anda sedang bepergian, sehingga saat Anda kembali, Anda benar-benar sudah merasa lebih baik.

“Apa yang perlu dilakukan saat bepergian adalah berdamai dengan emosi yang terperangkap jauh di dalam diri kita,” jelas Enrique, “seperti nyeri pada lengan bisa memiliki kaitan dengan penyakit jantung, kemampuan seorang perempuan mengatasi patah hati, misalnya, juga bisa berkaitan dengan hal lain. Contohnya, ditinggal oleh sang ayah ketika ia masih kecil.”

Melalui kegiatan berperjalanan dengan “panduan” ini, Travel Therapy berupaya untuk membantu seseorang menemukan dan mengatasi masalah dalam dirinya dalam kurun waktu lebih singkat, yakni ketika bepergian. Selain itu, metode ini juga membantu menggali penghargaan diri dan pencapaian. Seseorang akan merasa sukses ketika ia dapat mengakhiri perjalanannya dengan berkata, “Saya telah melakukan ini, saya sukses, dan saya telah mencapai sesuatu”.

Dengan meleburkan diri dalam atmosfir yang berbeda, seseorang dapat menemukan perspektif yang berbeda dalam memandang sesuatu. Karenanya, metode ini akan bekerja paling baik ketika subjek bepergian ke tempat dengan budaya yang sangat berbeda. Ia dapat membawa kekuatan pengalaman, rasa damai, serta “persatuan” dengan dunia.
Tidak Harus Mahal

Mungkin banyak orang sudah merasa terintimidasi dengan istilah Travel Therapy yang terdengar mahal. Padahal, bepergian tak selalu membutuhkan banyak biaya.

“Intinya adalah perubahan situasi. Jika Anda biasanya tak suka keluar rumah, berkemah selama beberapa hari sudah cukup. Jika Anda terbiasa dengan pekerjaan kantoran, cobalah pergi ke sawah,” usul Enrique.

Selain itu, ia menambahkan, seringkali biaya traveling digunakan sebagai alasan atau mekanisme self-defense. Menurut pengalamannya, banyak orang yang ia kirimi email yang menceritakan perjalanannya membalas dengan penuh rasa kagum atau iri, namun tak satu pun mengikuti jejaknya dengan berbagai alasan. Padahal, alasan sebenarnya adalah mereka merasa takut dan enggan mencoba mengenali rasa takut tersebut.

“Lagipula, jika bicara biaya,” tambah Enrique mengakhiri penjelasannya, “menjalani terapi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun jelas lebih mahal dibandingkan traveling. Biaya traveling pun tergantung cara yang Anda tempuh. Saya, misalnya, tidak pernah tinggal di hotel. Lebih penting lagi, sakit yang Anda alami tentunya lebih ‘mahal’ dibandingkan mengambil sedikit waktu dan uang untuk melakukan hal ini!”
Bagaimana, berminat mencoba Travel Therapy?

Enrique Crow adalah seorang psikolog, penulis, dan pendiri sebuah rock opera. Dapat dihubungi di todosomos@gmail.com.